BAB
3
PEMBAHASAN
I.
Pengertian Manajemen proyek
Pengertian manajemen
•
Kata manajemen berasal dari bahasa
Perancis kuno “management”, yang memiliki arti "seni melaksanakan dan
mengatur”. Pengertian manajemen adalah proses merencanakan, mengatur, memimpin,
mengendalikan suatu pekerjaan atau pekerja untuk mencapai suatu tujuan tertentu
dalam jangka waktu tertentu pula.
Pengertian proyek
•
Pengertian proyek adalah sebuah kegiatan
pekerjaan yang dilaksanakan atas dasar permintaan dari seorang pebisnis atau
pemilik pekerjaan yang ingin mencapai suatu tujuan tertentu dan dilaksanakan oleh pelaksana pekerjaan
sesuai dengan keinginan dari pada pebisnis atau pemilik proyek dan spesifikasi
yang ada.
I.I Pengertian
manajemen proyek menurut para ahli
Pengertian manajemen
proyek menurut H. Kerzner : Manajemen proyek adalah merencanakan, menyusun
organisasi, memimpin dan mengendalikan sumber daya perusahaan untuk mencapai
sasaran jangka pendek yang telah ditentukan.
Pengertian manajemen
proyek menurut Hughes dan Cotteral (2002;8-9) manajemen proyek adalah suatu
cara untuk menyelesaikan masalah yang harus dipaparkan oleh user, kebutuhan
user harus terlihat jelas dan harus terjadi komunikasi yang baik agar kebutuhan
user bisa diketahui.
Pengertian manajemen
proyek menurut PMBOK (Project Management Body of Knowledge) dalam buku Budi
Santoso (2009:3) manajemen proyek adalah aplikasi pengetahuan (knowledges),
ktrampilan (skills), alat (tools) dan teknik (techniques) dalam
aktifitas-aktifitas proyek untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan proyek.
Pengertian manajemen
proyek menurut Schawalbe (2004;8) manajemen proyek merupakan aplikasi dari ilmu
pengetahuan, skill, tools, dan teknik untuk aktifitas suatu proyek dengan
maksud memenuhi atau melampaui kebutuhan stakeholder dan harapan dari sebuah
proyek.
Pengertian manajemen
proyek menurut Wulfram I. Ervianto (2003:19) Manajemen proyek adalah semua
perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan koordinasi suatu proyek dari awal
(gagasan) samapi selesainya proyek untuk menjamin biaya proyek dilaksanakan
tepat waktu, tepat biaya, dan tepat mutu.
Pengertian manajemen
proyek menurut Chase, Aquilano, Jacobs (2001;58) Manajemen proyek dapat
didefinisikan sebagai perencanaan, pengarahan, dan pengaturan sumber daya
(manusia, peralatan, bahan baku) untuk mempertemukan bagian teknik, biaya dan
waktu suatu proyek.
Manajemen proyek
merupakan suatu usaha merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan, mengendalikan
dan mengawasi sumber daya organisasi
yang dimiliki perusahaan sehingga mencapai sasaran dan tujuan dalam jangka
waktu yang telah ditentukan.
II.
Ruang Lingkup Manajemen Proyek
Salah satu kompetensi
yang harus dimiliki oleh seorang manajer proyek handal adalah kemampuan dalam
melakukan manajemen ruang lingkup proyek. Dalam hal ini, seorang manajer proyek
harus mampu memastikan bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan dalam proyek
adalah aktivitas yang berhubungan dengan proyek dan aktivitas tersebut telah
memenuhi kebutuhan proyek. Dengan kata lain, manajemen ruang lingkup proyek
memiliki fungsi untuk mendefinisikan serta mengendalikan aktivitas-aktivitas
apa yang bisa dilakukan dan aktivitas-aktivitas apa saja yang tidak boleh
dilakukan dalam menyelesaikan suatu proyek
1. Menentukan waktu
proyek dimulai.
2. Perencanaan lingkup proyek yang akan
dikerjakan. Pada tahap ini, manajer proyek akan mendokumentasikan bagaimana
ruang lingkup proyek akan didefinisikan, diverifikasi, dikontrol dan menentukan
bagaimana WBS akan dibuat serta merencanakan bagaimana mengendalikan perubahan
akan ruang lingkup proyek.
3. Pendefinisian ruang lingkup proyek. Pada
tahap ini, ruang lingkup proyek akan didefinisikan secara terperinci sebagai
landasan untuk pengambilan keputusan proyek dimasa depan
4. verifikasi (pemeriksaan dan pengkajian
ulang) proyek serta kontrol atas perubahan yang mungkin terjadi saat proyek
tersebut dimulai. Tahap ini merupakan tahap dimana final project scope
statement diserahkan kepada stakeholder untuk diverifikasi.
5. Melakukan kontrol
terhadap ruang lingkup proyek. Dalam pelaksanaan proyek, tidak jarang ruang
lingkup proyek mengalami perubahan. Untuk itu, perlu dilakukannya kontrol
terhadap perubahan ruang lingkup proyek. Perubahan yang tidak terkendali, akan
mengakibatkan meluasnya ruang lingkup proyek.
III. Macam-Macam Proyek
Dilihat dari komponen
kegiatannya, proyek dapat dibedakan menjadi :
1. Proyek
Engineering-Konstruksi
Komponen kegiatan utama jenis proyek ini
terdiri dari pengkajian kelayakan, desain engineering, pengadaan, dan
konstruksi. Proyek seperti ini contohnya pembangunan gedung, jembatan, jalan
raya, fasilitas industri dan lain-lain.
2. Proyek
Engineering-Manufaktur
Proyek manufaktur merupakan proses untuk
menghasilkan produk baru. Jadi produk tersebut adalah hasil usaha kegiatan
proyek. Kegiatan utamanya meliputi desain engineering, pengembangan produk
(product development), manufaktur, perakitan, uji coba fungsi dan operasi
produk yang dihasilkan. Contohnya seperti pembuatan generator listrik, mesin
pabrik, kendaraan. Bila kegiatan manufaktur dilakukan berulang-ulang, rutin dan
menghasilkan produk yang sama dengan terdahulu, maka kegiatan ini tidak lagi
diklasifikasikan sebagai proyek.
3. Proyek
Penelitian dan Pengembangan
Proyek ini bertujuan melakukan
penelitian dan pengembangan dalam rangka menghasilkan suatu produk tertentu.
Dalam mengejar proses akhir, proyek ini seringkali menempuh proses yang
berubah-ubah, demikian pula dengan lingkup kerjanya. Proyek ini dapat berupa
proyek yang meningkatkan dan memperbaiki mutu produk. Contoh : Proyek membuat
robot yang difungsikan untuk membantu pekerjaan rumah tangga, penelitian
mengenai ditemukannya bibit unggul dari suatu tanaman.
4. Proyek
Pelayanan Manajemen
Proyek ini sering muncul dalam
perusahaan maupun instansi pemerintah. Proyek ini bisa berupa : perusahaan
merancang reorganisasi, ,perancangan struktur organisasi, merancang sistem
informasi manajemen, meliputi perangkat lunak ataupun perangkat keras,
merancang program efisiensi dan penghematan, serta melakukan diversifikasi, penggabungan
dan pengambil alihan.
5. Proyek
kapital
Kegiatan yang dilakukan dalam proyek ini
biasanya digunakan oleh sebuah badan usaha atau pemerintah. Proyek ini biasanya
berupa pengeluaran biaya untuk pembebasan tanah, pembelian materiil, pembelian
peralatan, pemasangan fasilitas, desain mesin dan konstruksi guna pembangunan
instalasi pabrik/gedung baru.
Pada kenyataan yang sesungguhnya tidak mudah
memilah-milah macam proyek berdasarkan criteria diatas karena seringkali satu
proyek mengandung macam-macam komponen kegiatan dengan bobot(harga, atau jam,
orang) yang tidak jauh berbeda. Sebagai contoh, proyek instalasi pembangkit
listrik tenaga uap (PLTU). Dari segi pembangunannya dapat digolongkan sebagai
proyek engineering-konstruksi. Namun bila dilihat komponen utamanya seperti ketel
uap, generator listrik, turbin uap, dan peralatan lainnya yang semuanya
melibatkan engineering-manufaktur, maka secara keseluruhan kegiatan manufaktur
akan memiliki bobot(biaya) tidak jauh berbeda dari kegiatan konstruksi, bahkan
mungkin lebih. Atas dasar itulah pengelompokan seperti diatas tidak boleh
diartikan secara sempit karena memang tidak terdapat batas yang jelas, tetapi
hendaknya dilihat dari komponen kegiatan yang diperkkirakan memiliki bobot
terbesar.
IV.
Timbulnya Suatu Proyek
Timbulnya suatu proyek
dapat berasal dari hal berikut:
1.
Rencana pemerintah
Tujuannya
dititikberatkan pada kepentingan umum dan masyarakat, contohnya proyek
pembangunan prasarana seperti jalan, jembatan, saluran irigasi, bendungan,
lapangan terbang dan lain-lain.
2.
Permintaan pasar
Hal
ini terjadi bila suatu ketika pasar memerlukan kenaikan suatu macam produk
dalam jumlah besar. Permintaan ini dipenuhi dengan jalan membangun sarana
produksi baru.
3.
Dari dalam perusahaan yang bersangkutan
Hal
ini dimulai dengan adanya desakan keperluan dan setelah dikaji dari segala
aspek menghasilkan keputusan untuk merealisasikannya menjadi proyek. Misalnya
proyek yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan memperbarui
perangkat dan system kerja lama agar lebih mampu bersaing.
4.
Dari Kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Dari
kegiatan tersebut dihasilkan produk baru yang diperkirakan akan banyak manfaat
dan peminatnya, sehingga mendorong dibangunnya fasilitas produksi. Misalnya,
komoditi obat-obatan dan bahan kimia yang lain
V.
Perkembangan
dalam Siklus Proyek
Suatu sistem
yang dinamis, seperti halnya proyek, memiliki tahap-tahap perkembangan. Pada
masing-masing tahap terdapat kegiatan yang dominan dengan tujuan yang khusus
atau spesifik. Sampai saat ini belum ada keseragaman pembagian tahap dalam
siklus proyek, baik jumlah maupun terminologi yang dipakai. Hal ini antara lain
karena banyaknya macam, ukuran, dan kompleksitas proyek, serta latar belakang
tujuan pembagian itu sendiri.
V.I Pembagian
Menurut UNIDO
Salah satu
sistematika penahapan yang luas pemakaiannya adalah disusun oleh United
National Industrial Development Organization (UNIDO). UNIDO membagi siklus
proyek menjadi 2 tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap implementasi. Kegiatan
pada kedua tahap itu diperinci menjadi sebagai berikut :
a. Tahap Persiapan
a.a Identifikasi gagasan atau analisis pendahuluan.
a.b Pengembangan ide
menjadi konsep-konsep alternatif.
a.c Formulasi lingkup proyek.
a.d Evaluasi lanjutan dan keputusan untuk
investasi.
b. Tahap
Implementasi
b.a Penyiapan desain-engineering terinci, jadwal
induk, dan anggaran.
b.b Pengadaan kontrak dan pembelian.
b.c Pengerjaan aplikasi, kontruksi, uji coba, dan start-up.
Setelah proyek selesai kemudian dilanjutkan
dengan operasi rutin dari instansi yang baru selesai dibangun.
V.II Pembagian
Menurut MRDC
Mobil Research
and Development Corporation (MRDC), suatu anak perusahaan Mobil Oil-Princeton
USA yang bergerak dalam konsultasi bidang penelitian dan pengembangan termasuk pengelolaan proyek,
menyusun sistematika siklus proyek menjadi tiga tahap. Ketiga tahap tersebut terdiri atas Front-end, Tahap 1 dan Tahap 2,
dengan perincian sebagai berikut :
a. Front End
Tahap ini
meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1.
Mengidentifikasi lingkup
gagasan (ide) yang timbul.
2.
Memikirkan
alternatif-alternatif yang mungkin.
3.
Memilih alternatif dan
merumuskannya menjadi lingkup kerja pendahuluan.
4.
Membuat perkiraan biaya dan
jadwal pendahuluan.
5.
Menyiapkan angka anggaran
biaya tahap berikutnya.
b. Tahap 1
Terdiri dari
kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Memperjelas definisi lingkup kerja.
2. Menyusun anggaran proyek dan jadwal induk;
3. Menyiapkan dokumen tender, rancangan kontrak, dan memilih calon
pelaksana (kontraktor) untuk pekerjaan Tahap 2.
c. Tahap 2
Kegiatan utama pada tahap ini terdiri
dari :
1. Membuat
desain-engineering terinci.
2. Melakukan pembelian atau kontrak material dan jasa.
3. Manufaktur (pabrikasi) peralatan dan konstruksi.
4. Melakukan inspeksi, uji coba, dan start-up.
VI. Mengelola Konflik dalam Proyek
Sebagian besar orang yang pernah aktif dalam organisasi akan setuju
pada satu hal bahwa yang paling sulit adalah mengatur orang. Karena dalam
interaksinya seringkali terjadi apa yang dinamakan konflik. Konflik yang tidak
dikelola dengan baik sangat berpotensi untuk menggagalkan pencapaian tujuan
organisasi. Dengan demikian tidaklah menyimpang jika dalam pembahasan manajemen
proyek dimasukkan pembahasan tentang manajemen konflik ini.
VI.I Munculnya konflik
Konflik bisa muncul antar orang dalam organisasi, orang-orang dalam
tim, antar departemen, antara user dan kontruktor, antara tim proyek dan staf
fungsional.
•
Konflik
antara user dan kontraktor
Konflik antara user dan kontraktor sudah akan muncul ketika keduanya
terlibat untuk negoisasi kontrak. Masing-masing pihak biasanya akan lebih
mementingkan pihaknya sendiri daripada mengembangkan kepercayaan dan saling
bekerjasama untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Hasil akhir
proyek juga memungkinkan terjadinya konflik antara user dan kontraktor.
•
Konflik
dalam organisasi proyek
Didalam organisasi sendiri sangat besar peluang untuk terjadinya
konflik. Peluang ini akan besar bila kelompok-kelompok yang bekerja dalam
proyek mempunyai perbedaan dalam hal tujuan dan harapan, beberapa hal tidak
jelas siapa yang harus membuat atau berwenang untuk membuat keputusan, memang
ada konflik antar individu dalam proyek.
VI.II Manfaat
adanya konflik
a.
Bisa
menghasilkan ide-ide baru yang lebih baik
b.
Memacu
orang untuk mencari dan menemukan pendekatan-pendekatan baru dalam menyelesaikan
masalah.
c.
Memunculkan
masalah lama ke permukaan dan kesepakatan tentang adanya masalah tersebut.
d.
Memacu
orang untuk menyelesaikan pandangannya.
e.
Menyebabkan
tekanan yang akan menstimulasi perhatian dan kreativitas seseorang.
f.
Memberikan
kesempatam kepada seseorang untuk menguji kapasitas kemampuannya.
VI.III Konflik
selama siklus hidup proyek
Penyebab utama
konflik yang terjadi dalam manajemen proyek adalah 3 hal yakni penjadwalan
proyek, prioritas proyek dan tenaga kerja. Sedangkan penyebab lain adalah
masalah teknis dan trade off hasil fisik, administrasi dan organisasi,
perbedaan interpersonal dan biaya. Contohnya jika pada tahap akhir proyek
banyak pekerjaan belum selesai maka jadwal akan menjadi sumber konflik.
VII.
Perencanaan
Proyek
Perencanaan adalah
suatu tahapan dalam manajemen proyek yang mencoba meletakkan dasar tujuan dan
sasaran sekaligus menyiapkan segala program teknis dan administratif agar dapat
di implementasikan.
Filosofi
Perencanaan :
1. Aman : keselamatan terjamin
2. Efektif : produk perencanaan berfungsi sesuai
yang diharapkan
3. Efisien : produk yang dihasilkan hemat biaya
4. Mutu terjamin, tidak menyimpang dari
spesifikasi yang ditentukan
VIII.I Tujuan
perencanaan proyek :
1. Mempermudah perumusan permasalahan proyek
2. Menentukan metode atau cara yang sesuai
3. Kelancaran kegiatan lebih terorganisir
4. Mendapatkan hasil yang optimum
Manfaat Perencanaan
tersebut bagi proyek yaitu :
1. Mengetahui keterkaitan antar kegiatan
2. Mengetahui kegiatan yang perlu menjadi
perhatian (kegiatan kritis)
3. mengetahui dengan jelas kapan memulai kegiatan
dan kapan harus menyelesaikanya.
VIII.II Tahap-tahap
perencanaan proyek
Setelah kontrak
proyek ditandatangani, maka perusahaan harus memberi wewenang untuk melakukan
perencanaan sebagai berikut :
1.
Penentuan
tujuan proyek dan kebutuhan‐kebutuhannya. Dalam hal ini
perlu ditentukan hasil akhir proyek, waktu, biaya dan performansi (cacatan outcome yang dihasilkan dari fungsi suatu pekerjaan tertentu
atau kegiatan selama suatu periode waktu tertentu.) yang
ditargetkan.
2.
Pekerjaan‐pekerjaan apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuan proyek harus diuraikan dan didaftar.
3.
Organisasi
proyek dirancang untuk menentukan departemen‐departemen yang ada,
subkontraktor yang diperlukan dan manajer manajer yang bertanggungjawab terhadap aktivitas
pekerjaan yang ada.
4. Jadwal untuk setiap aktifitas pekerjaan dibuat
yang memperlihatkan waktu tiap aktifitas dan batas selesai.
5. Ramalan mengenai waktu, biaya dan performansi
penyelesaian proyek.
VIII.III Alat-alat
perencanaan
1. Work breakdown structure (WBS) untuk menentukan
pekerjaan-pekerjaan yang ada dalam proyek
2. Matriks tanggung jawab untuk menentukan
organisasi proyek , orang-orang kunci dan tanggung jawabnya.
3. Gantt charts untuk mennunjukkan jadwal induk
proyek, dan jadwal pekerjaan secara detail
4. Jaringan kerja (network) untuk memperlihatkan
urutan pekerjaan, kapan dimulai, kapan selesai, kapan proyek secara keseluruhan
akan selesai.
IX.
Organisasi
dan Penyusunan Tim Proyek
Secara umum yang
dimaksud dengan mengorganisir adalah mengatur unsure-unsur sumber daya
perusahaan yang terdiri dari tenaga kerja, tenaga ahli, material, dana, dan
lain-lain dalam suatu gerak langkah yang sinkron untuk mencapai tujuan
organisasi dengan efektif dan efisien.
Proses
mengorganisir proyek mengikuti urutan berikut :
a. Melakukan identifikasi dan klasifikasi
pekerjaan
b. Mengelompokkan pekerjaan
c. Menyiapkan pihak yang akan menangani pekerjaan
d. Mengetahui wewenang, dan tanggung jawab serta
melakukan pekerjaan
e. Menyusun mekanisme koordinasi
Agar proses diatas
berlangsung dengan baik, dibutuhkan suatu wadah dalam bentuk struktur
organisasi. Struktur ini akan menggambarkan hubungan formal, bentuk bentuk
struktur formal yang terkenal adalah fungsional, produk, area dan matriks
a. Organisasi fungsional
Dalam organisasi
proyek fungsional, susunan organisasi proyek dibentuk dari fungsi-fungsi yang
terdapat dalam suatu organisasi. Mereka yang mengerjakan pekerjaan sejenis
dikelompokkan dalam satu unit yang dinamakan bidang atau departemen. Dengan
maksud yang sama bidang dipecah lagi menjadi subunit yang lebih kecil.
Adapun beberapa
kelebihan yang terdapat dalam organisasi proyek ini antara lain memudahkan
pengawasan dan kepenyeliaan karena personil melapor hanya pada 1 atasan, adanya
potensi meningkatkan keterampilan dan keahlian individu serta kelompok untuk
menjadi spesialis pada bidangnya, konsentrasi perhatian personil terpusat pada
sasaran bidang yang bersangkutan, penggunaan sumberdaya yang semakin efisien
sebagai akibat pekerjaan yang sejenis dan berulang-ulang, memudahkan
pengendalian kinerja personil serta biaya jadwal dan mutu produk.
Sedangkan beberapa
kelemahan yang ditemui dalam organisasi proyek fungsional antara lain cenderung
memprioritaskan kinerja dan keluaran (output) masing-maisng bidang. Hal ini
dapat mengurangi perhatian tujuan perusahaan secara menyeluruh, sulit
mengkoordinasi dan mengintegrasikan pekerjaan yang multidisiplin dan melibatkan
banyak pihak di luar organisasi dan kurangnya jalur komunikasi horizontal.
Jangan lupa tinggalkan komentar ya.. Terima Kasih !